BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alasan penulis, memilih untuk menjelaskan mengenai kebudayaan dan adat-istiadat suku Batak, karena penulis merupakan keturunan dari orang tua yang berdarah Batak khususnya Batak Toba. Selain itu, penulis juga ingin lebih mengetahui lebih dalam mengenai adat-istiadat, kebudayaan serta kebiasaan dari suku bangsa penulis sendiri, yaitu suku Batak. Karena penulis belum pernah berkunjung ke kampung halaman, sehingga diharapkan lewat penyusunan tugas ini, penulis dapat lebih mengetahui dan mengenal suku bangsa Batak dan mampu menghargai, melestarikan dan menjaga kebudayaan serta adat istiadat yang ada.
1.2 Perumusan Masalah
Bagaimana penerapan unsur-unsur budaya pada kebudayaan Batak?
1.3 Tujuan penulisan
Untuk mengetahui dan memahami tujuh kebudayaan universal, antara lain:
1.3.1 Bahasa
Tujuannya untuk mengetahui dan menganalisis penerapan bahasa pada kebudayaan Batak.
1.3.2 Sistem Teknologi dan Alat Produksi
Tujuannya untuk mengetahui dan menganalisis penerapan sistem teknologi dan alat produksi pada kebudayaan Batak.
1.3.3 Sistem Mata Pencaharian
Tujuannya untuk mengetahui dan menganalisis penerapan sistem mata pencaharian pada kebudayaan Batak.
1.3.4 Organisasi Sosial
Tujuannya untuk mengetahui dan menganalisis penerapan organisasi sosial pada kebudayaan Batak.
1.3.5 Sistem Pengetahuan
Tujuannya untuk mengetahui dan menganalisis penerapan sistem pengetahuan pada kebudayaan Batak.
1.3.6 Sistem Religi
Tujuannya untuk mengetahui dan menganalisis penerapan sistem religi pada kebudayaan Batak.
1.3.7 Kesenian
Tujuannya untuk mengetahui dan menganalisis penerapan kesenian pada kebudayaan Batak.
BAB II
KERANGKA TEORITIS
2.1 Pengertian Kebudayaan
2.1.1 Secara Etimologis
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddayah yang merupakan jamak dari kata buddhi (budi atau akal). Sedangkan dalam bahasa Inggris atau Perancis, kebudayaan disebut culture, berasal dari kata latin colere yang berarti “habiter” (menempati/meninggali), “cultiver” (menanam) atau “honorer” (memuliakan), merujuk secara umum pada aktivitas manusia untuk menumbuhkembangkan sesuatu.
2.1.2 Definisi menurut para ahli
Edward B. Taylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.
M. Jacobs dan B.J. Stern
Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi social, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan social.
Koentjaraningrat
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan relajar.
Dr. K. Kupper
Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, baik secara individu maupun kelompok.
William H. Haviland
Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di tarima ole semua masyarakat.
2.1.3 Teori Operasional
Sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide gagasan yang terdapat di dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata.
Misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi social, religi seni dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
2.1.3 Instrumen Variable Teori Kebudayaan
Variable Teori Dimensi Indikator
K 1. Peralatan Hidup 1. Pakaian
E 2. Piring
B 3. Alat masak-memasak
U 2. Pola Perilaku 1. Introvert
D 2. Ekstrovert
A 3. Dominan
Y 3. Pengetahuan 1. Alam
A 2. Sosial
A 3. Bahasa
N
2.2 Pengertian Masyarakat
2.2.1 Definisi Etimologis
Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
2.2.2 Definisi Konseptual
JL Gillin (sosiolog) dan JP Gilin (antropolog)
Masyarakat adalah sekelompok orang yang satu sama lain merasa terikat oleh kebiasaan tertentu, tradisi, perasaan, dan prilaku yang sama.
Koentjaraningrat
Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi sesuai dengan adat istiadat tertentu yang sifatnya berkesinambungan, dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama.
WJS.Poerwadarminto
Masyarakat adalah suatu pergaulan hidup manusia, sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan dan aturan yang tertentu.
Talcott Parsons
Masyarakat adalah suatu sistem sosial yang suasembada (self subsistent ) melebihi masa hidup individual normal dan merekrut anggota secara reproda biologis serta melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya.
Syaikh Taqyuddin An-Nabhani
Sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta system atau aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.
2.2.3 Teori Operasional
Kesatuan hidup manusia yang berinteraksi sesuai dengan adat istiadat tertentu yang sifatnya berkesinambungan, dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama serta memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem atau aturan yang sama.
2.3.4 Instrumen Variabel teori Masyarakat
Variable Teori Dimensi Indikator
M 1. Manusia 1. Makhluk hidup
A 2. Makhluk sosial
S 3. Individu
Y 2. Adat 1. kebiasaan
A 2. Kepercayaan
R 3. Agama
A 3. Rasa 1. Cinta
K 2. Benci
A 3. Aman
T
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1.1 Pengertian Penelitian Kualitatif
Metode Penelitian Kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik.karena penelitiannya dilakukan pada kondisi alamiah (Natural setting);disebut sebagai metode etnographi;karena pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya disebut sebagai metode kualitatif.
Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah,dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci,teknik pengumpulan data yang dilakukan secara trianggulasi (gabungan)
Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, sebagai lawan dari eksperimen. Dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, analisis bersifat induktif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan pada makna daripada generalisasi (sugiyono,2005:1)
Kriteria data dalam penelitian kualitatif adalah data yang pasti.data yang pasti adalah data yang sebenarnya terjadi sebagaimana adanya,bukan data yang sekedar yang terlihat,terucap,tetapi data yang mengandung makna dibalik yang terlihat dan terucap tersebut.
3.1.2 Pengertian Penelitian Studi Deskriptif
Menurut Travers (1978),metode ini bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat riset dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu.
Menurut Gay (1976),studi deskriptif adalah kegiatan yang meliputi pengumpulan data dalam rangka menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan yang menyangkut keadaan pada waktu yang sedang berjalan dari pokok suatu penelitian. Dan bertujuan untuk menjawab pertanyaan yang menyangkut sesuatu pada waktu sedang berlangsungnya proses riset.
Penelitian Deskriptif menentukan dan melaporkan keadaan sekarang.seperti penelitian sejarah tidak memiliki kekuatan untuk mengontrol hal-hal yang telah terjadi, demikian pula deskriptif tidak memiliki kekuatan untuk mengontrol hal-hal yang sementara terjadi dan hanya dapat mengukur apa yang ada.
1.Cara untuk memperoleh Informasi Deskriptif
a. Metode yang paling umum digunakan dalam pengumpulan data yaitu yang berhubungan dengan sikap dan pendapat dari suatu kelompok orang adalah dengan meminta mereka untuk memberikan informasi penting.informasi ini mungkin dapat diperoleh melalui wawancara pribadi atau melalui survei surat menyurat.data yang dikumpulkan dapat berupa informasi faktual atau hanya terdiri dari sejumlah pendapat.tipe penyelidikan deskriptif dapat berupa daftar pertanyaan atau sebagai peneliti daftar pendapat.
b. cara kedua dalam pengumpulan data menggumpulkan informasi deskriptif adalah melalui pengamatan.menurut (helmestadter, 1970) digolongkan atas tiga yaitu pengamatan yang memusatkan pada tingkah-laku sesunguhnya responden yang digolongkan sebagai analisis kegiatan,analisis tugas dan analisis proses. Sedangkan pengamatan yang dipusatkan pada hasil tingkah-laku responden disebut analisis hasil.
c. cara ketiga dapat memperoleh informasi deskriptif dengan menggunakan alat-alat atau instrumen survei deskriptif untuk melakukan pengukuran pada responden yang telah diketahui didalam penyelidikannya.
3.1.3 Pengertian Studi Kasus
Studi kasus adalah Penelitian yang rinci mengenai suatu objek tertentu selama kurun waktu tertentu selama kurun waktu tertentu dengan cukup mendalam dan menyeluruh termasuk lingkungan dan kondisi masa lalunya dan si peneliti berusaha menemukan hubungan antara faktor-faktor tersebut satu dengan yang lain.
Studi kasus kadang-kadang melibatkan peneliti dengan unit yang terkecil seperti perusahaan atau kelompok-kelompok masyarakat tertentu.
Keuntungan memakai studi kasus antara lain: Peneliti dapat lebih mendalam, sehingga dapat menjawab mengapa keadaan itu terjadi dan peneliti diharapkan dapat menemukan hubungan-hubungan yang tadinya tidak diharapkan.
Studi kasus juga memiliki kelemahan misalnya kajian relatif menjadi kurang luas dan dalam, sulit digeneralisasikan dengan keadaan yang berlaku umum, dan kecendrungan mengarah ke subjektivitas oleh karena itu, objek peneliti dapat mempengaruhi prosedur.
3.2 Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan oleh penulis adalah pengumpulan data secara primer dan sekunder.
3.2.1 Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung di lapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan yang memerlukannya.data primer ini,juga disebut data asli atau data baru.(Hasan,2002:82)
Wawancara Semi Terstruktur
Wawancara adalah cara pengumpulan data yang dilakukan dengan bertanya dan mendengarkan jawaban langsung dari sumber utama data. Peneliti merupakan pewawancara dari sumber data adalah orang yang diwawancarai (Kountur,2007:186)
Dalam melakukan wawancara,Pengumpulan data telah menyiapkan berbagai instrumen penelitian berupa daftar pertanyaan dan alat bantu seperti tape recorder,gambar dan lainnya. (Sugiyono,2005:73)
Wawancara semi terstruktur tidak memiliki perencanaan sebelumnya, dalam arti kalimat dan urutan pertanyaan yang diajukan tidak harus mengikutim ketentuan secara ketat.Daftar pertanyaan perlu mencakup beberapa pertanyaan spesifik dan beberapa pertanyaan bebas (open ended). Open ended adalah pertanyaan terbuka untuk mendapat responden.(Basuki,2005:172)
3.2.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang bersumber dari hasil penelitian orang lain yang dibuat untuk maksud yang berbeda. Data tersebut berupa fakta, tabel,gambar dan lain-lain. Walaupun data tersebut diperoleh dari hasil penelitian orang lain yang dibuat untuk maksud yang berbeda, namun data tersebut dapat dimanfaatkan. (Kountur,2007:178-179)
Maka Data sekunder merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain misalnya data tentang rating televisi yang didapat dari terbitan yang dikeluarkan oleh badan riset yang dikelola oleh swasta.
A. Definisi Kebudayaan
1. Definisi Etimologis
Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi dan akal). Sedangkan, dalam bahasa Inggris, kebudayaan berarti culture yang berasal dari bahasa Latin colere yang artinya mengolah atau mengerjakan tanah atau bertani.
2. Definisi Konseptual
Edward B. Taylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terdapat pengetahuan, kepercayaanm kesenian, moral, hokum, adapt istiadat, dan kemampuan lainnya yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Selo Soemardjan dan Soelarman Soemadi
Kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta manusia.
Ralph Linton
Kebudayaaan adalah keseluruhan pengetahuan, sikap, dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat tertentu.
Koentjaraningrat
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tingkah laku, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar.
3. Definisi Operasional
Kebudayaan adalah sekumpulan adat, tradisi, nilai, norma, dan tata cara hidup yang dijalankan oleh suatu kelompok masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Misalnya adapt dari orang tua ke anak-anaknya; setiap hari sabtu minggu adalah hari untuk keluarga berkumpul. Tiddak ada kegiatan yang tidak dilakukan bersama-sama. Pergi, makan, dan lain-lain dilakuan bersama-sama.
B. Definisi Masyarakat
1. Definisi Etimologis
Masyarakat sebagai terjemahan dari istilah society (dalam bahasa Inggris) yang berasal dari bahasa Latin, yaitu societas yang berarti hubungan persahabatan dengan yang lain. Societas diturunkan dari kata socius yang berarti teman, sehingga arti society berhubungan erat dengan kata sosial. Secara implisit, kata society mengandung makna bahwa setiap anggotanya memiliki perhatian dan kepentingan yang sama dalam mencapai tujuan.
2. Definisi Konseptual
Emile Durkheim
Masyarakat adalah suatu kenyataan obyektif individu-individu yang merupakan anggota-anggotanya.
Max Weber
Masyarakat adalah suatu struktur atau aksi yang pada pokoknya ditentukan oleh harapan dan nilai-nilai dominan dalam warganya.
Karl Marx
Masyarakat adalah suatu struktur yang menderita ketegangan organisasi ataupun perkembangan adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terpecah secara ekonomis.
Conrad Kottack
Masyarakat adalah hidup yang terorganisir di dalam kelompok.
Carol and Melvin Ember
Masyarakat adalah sekumpulan orang yang menempati wilayah tertentu, bicara dalam bahasa yang sama yang tidak secara umum dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya.
3. Definisi Operasional
Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang hidup dalam suatu lingkungan yang sama dengan cukup lama, mandiri, memiliki kebudayaan yang sama dan turut serta memiliki kegiatan dalam lingkungan tersebut
1. Bahasa
Bahasa yang digunakan masyarakat Batak yaitu Bahasa batak pak-pak, toba, mandailing, karo, simalungun. Seiring perkembangan zaman dan budaya, bahasa tersebut masih tetap digunakan hingga saat ini oleh masyarakat Batak.
2. Sistem Teknologi dan Alat Produksi
Dalam bidang teknologi masyarakat Batak telah mengalami sebuah perkembangan yang cukup nyata yaitu: Peneliti berkebangsaan Jerman, Prof. Dr. Uli Kozok melakukan transliterasi atau alih aksara dari tulisan huruf Latin menjadi aksara Batak Toba dalam sistem komputerisasi. Peluncuran program transliterasi itu dilakukan di Universitas Sisingamangaraja XII. Peneliti aksara Batak dari Universitas Hawai itu mengatakan, transliterasi itu dilakukan sebagai bentuk perpaduan antara tradisi dan teknologi untuk melestarikan salah satu kekayaan warisan budaya Indonesia .“Program ini dapat dilihat lansung di internet dengan situs www.transtoba2.seige.net dalam tiga bahasa, yakni Indonesia dan dua bahasa asing yakni Inggris dan Jerman
Pakaian : ulos (selendang), kain songket, baju kurung
ulos dianggap sebagai salah satu dari 3 sumber kehangatan bagi manusia (selain Api dan Matahari), namun dipandang sebagai sumber kehangatan yang paling nyaman karena bisa digunakan kapan saja (tidak seperti matahari, dan tidak dapat membakar (seperti api). Sama seperti suku-suku lain di sekitarnya, pakaian adat suku Batak Simalungun tidak terlepas dari penggunaan kain Ulos (disebut Uis di suku Karo). Kekhasan pada suku Simalungun adalah pada kain khas serupa Ulos yang disebut Hiou dengan berbagai ornamennya. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat, dipercaya mengandung “kekuatan” yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak, memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar , Muangthai dan Laos , khususnya pada ikat kepala, kain dan ulosnya. Ulos dapat dikenakan dalam berbagai bentuk, sebagai kain penutup kepala, penutup badan bagian bawah, penutup badan bagian atas, penutup punggung dan lain-lain. Ulos dalam berbagai bentuk dan corak/motif memiliki nama dan jenis yang berbeda-beda, misalnya ulos penutup kepala wanita disebut suri-suri, ulos penutup badan bagian bawah bagi wanita disebut ragipane, atau yang digunakan sebagai pakaian sehari-hari yang disebut jabit. Ulos dalam pakaian penganti Simalungun juga melambangkan kekerabatan Simalungun yang disebut Dalihan Natolu, yang terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (sarung).Menurut Muhar Omtatok, Budayawan Simalungun, awalnya Gotong (Penutup Kepala Pria Simalungun) berbentuk destar dari bahan kain gelap ( Berwarna putih untuk upacara kemalangan, disebut Gotong Porsa), namun kemudian Tuan Bandaralam Purba Tambak dari Dolog Silou juga menggemari trend penutup kepala ala melayu berbentuk tengkuluk dari bahan batik, dari kegemaran pemegang Pustaha Bandar Hanopan inilah, kemudian Orang Simalungun dewasa ini suka memakai Gotong berbentuk Tengkuluk Batik. Seperti suku lain di rumpun Batak, Simalungun memiliki kebiasaan mangulosi (memberikan ulos) yang salah satunya melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada si penerima ulos, ulos diberikan dari orang tua kepada anak ataupun sebaliknya. Perkembangan budaya masyarakat Batak tentang berpakaian dimana pada jaman dahulu orang batak memakai ulos sebagai pakaian sehari hari namun dengan berkembangnya jaman pakaian ulos itu hanya dipakai dalam upacara adat saja seperti biasa kita lihat sekarang pada acara pernikahan masyarakat Batak kini sudah mengenakan JAS dan memakai Dasi. Selain itu, produsen serat alam cellulosic dari pohon eucalyptus mempersembahkan sebuah pencapaian baru di bidang tekstil tradisional yaitu kain ulos Batak dengan inovasi baru, yakni menggunakan bahan dasar benas viskos, benang Lenzing Modal dan benang Tencel.Kain tersebut tidak hanya dipresentasikan sebagai bentuk kain mentah, tetapi berupa rangkaian koleksi busana memikat hasil kerjasama PT South Pasific Viscose dengan desainer Merdi Sihombing, dengan memberikan tampilan dan karakter baru pada ulos. Bila selama ini ulos dikenal dengan sifatnya yang kaku dan sekarang mengalami perubahan bentuk.Selain terjadi perubahan pada komposisi motif, terdapat pula perubahan pada penggantian benang tradisional dengan benang baru yang lebih lembut.
Rumah adat suku bangsa Batak
Gorga Batak adalah ukiran atau pahatan tradisional yang biasanya terdapat di dinding rumah bahagian luar dan bagian depan dari rumah-rumah adat Batak. Gorga ada dekorasi atau hiasan yang dibuat dengan cara memahat kayu (papan) dan kemudian mencatnya dengan tiga (3) macam warna yaitu : merah-hitam-putih. Warna yang tiga macam ini disebut tiga bolit.
Bahan-bahan untuk Gorga ini biasanya kayu lunak yaitu yang mudah dikorek/dipahat. Biasanya nenek-nenek orang Batak memilih kayu ungil atau ada juga orang menyebutnya kayu ingul. Kayu Ungil ini mempunyai sifat tertentu yaitu antara lain tahan terhadap sinar matahari langsung, begitu juga terhadap terpaan air hujan, yang berarti tidak cepat rusak/lapuk akibat terkena sengatan terik matahari dan terpaan air hujan. Kayu Ungil ini juga biasa dipakai untuk pembuatan bahan-bahan kapal/ perahu di Danau Toba.
Jenis/ Macamnya Gorga Batak
Menurut cara pengerjaannya ada 2 jenis :
1. Gorga Uhir yaitu Gorga yang dipahatkan dengan memakai alat pahat dan setelah siap dipahat baru diwarnai
2. Gorga Dais yaitu Gorga yang dilukiskan dengan cat warna tiga bolit. Gorga dais ini merupakan pelengkap pada rumah adat Batak Toba. Yang terdapat pada bahagian samping rumah, dan dibahagian dalam.
Menurut bentuknya
Dilihat dari ornament dan gambar-gambarnya dapat pula Gorga itu mempunyai nama-namanya tersendiri, antara lain ;
• Gorga Ipon-Ipon, Terdapat dibahagian tepi dari Gorga; ipon-ipon dalam Bahasa Indonesia adalah Gigi. Manusia tanpa gigi sangat kurang menarik, begitulah ukiran Batak, tanpa adanya ipon-ipon sangat kurang keindahan dan keharmonisannya. Ipon-ipon ada beraneka ragam, tergantung dari kemampuan para pengukir untuk menciptakannya. Biasanya Gorga ipon-ipon ini lebarnya antara dua sampai tiga sentimeter dipinggir papan dengan kata lain sebagai hiasan tepi yang cukup menarik.
• Gorga Sitompi, Sitompi berasal dari kata tompi, salah satu perkakas Petani yang disangkutkan dileher kerbau pada waktu membajak sawah. Gorga Sitompi termasuk jenis yang indah di dalam kumpulan Gorga Batak. Disamping keindahannya, kemungkinan sipemilik rumah sengaja memesankannya kepada tukang Uhir (Pande) mengingat akan jasa alat tersebut (Tompi) itu kepada kerbau dan kepada manusia.
• Gorga Simataniari (Matahari), Gorga yang menggambarkan matahari, terdapat disudut kiri dan kanan rumah. Gorga ini diperbuat tukang ukir (Pande) mengingat jasa matahari yang menerangi dunia ini, karena matahari juga termasuk sumber segala kehidupan, tanpa matahari takkan ada yang dapat hidup.
• Gorga Desa Naualu (Delapan Penjuru Mata Angin), Gorga ini menggambarkan gambar mata angin yang ditambah hiasan-hiasannya. Orang Batak dahulu sudah mengetahui/kenal dengan mata angin. Mata angin ini pun sudah mempunyai kaitan-kaitan erat dengan aktivitas-aktivitas ritual ataupun digunakan di dalam pembuatan horoscope seseorang/sekeluarga. Sebagai pencerminan perasaan akan pentingnya mata angina pada suku Batak maka diperbuatlah dan diwujudkan dalam bentuk Gorga.
• Gorga Si Marogung-ogung (Gong), Pada zaman dahulu Ogung (gong) merupakan sesuatu benda yang sangat berharga. Ogung tidak ada dibuat di dalam negeri, kabarnya Ogung didatangkan dari India . Sedangkan pemakaiannya sangat diperlukan pada pesta-pesta adat dan bahkan kepada pemakaian pada upacara-upacara ritual, seperti untuk mengadakan Gondang Malim (Upacara kesucian). Dengan memiliki seperangkat Ogung pertanda bahwa keluarga tersebut merupakan keluarga terpandang. Sebagai kenangan akan kebesaran dan nilai Ogung itu sebagai gambaran/ keadaan pemilik rumah maka dibuatlah Gorga Marogung-ogung.
• Gorga Singa Singa, Dengan mendengar ataupun membaca perkataan Singa maka akan terlintas dalam hati dan pikiran kita akan perkataan: Raja Hutan, kuat, jago, kokoh, mampu, berwibawa. Tidak semua orang dapat mendirikan rumah Gorga disebabkan oleh berbagai faktor termasuk factor social ekonomi dan lain-lain. Orang yang mampu mendirikan rumah Gorga Batak jelaslah orang yang mampu dan berwibawa di kampungnya. Itulah sebabnya Gorga Singa dicantumkan di dalam kumpulan Gorga Batak
• Gorga Jorgom, Ada juga orang menyebutnya Gorga Jorgom atau ada pula menyebutnya Gorga Ulu Singa. Biasa ditempatkan di atas pintu masuk ke rumah, bentuknya mirip binatang dan manusia.
• Gorga Boras Pati dan Adop Adop (Tetek), Boras Pati sejenis mahluk yang menyerupai kadal atau cicak. Boras Pati jarang kelihatan atau menampakkan diri, biasanya kalau Boras Pati sering nampak, itu menandakan tanam-tanaman menjadi subur dan panen berhasil baik yang menuju kekayaan (hamoraon). Gorga Boras Pati dikombinasikan dengan tetek (susu, tarus). Bagi orang Batak pandangan terhadap susu (tetek) mempunyai arti khusus dimana tetek yang besar dan deras airnya pertanda anaknya sehat dan banyak atau punya keturunan banyak (gabe). Jadi kombinasi Boras Pati susu (tetek) adalah perlambang Hagabeon, Hamoraon sebagai idaman orang Batak.
• Gorga Ulu Paung, Ulu Paung terdapat di puncak rumah Gorga Batak. Tanpa Ulu Paung rumah Gorga Batak menjadi kurang gagah. Pada zaman dahulu Ulu Paung dibekali (isi) dengan kekuatan metafisik bersifat gaib. Disamping sebagai memperindah rumah, Ulu Paung juga berfungsi untuk melawan begu ladang (setan) yang datang dari luar kampung. Zaman dahulu orang Batak sering mendapat serangan kekuatan hitam dari luar rumah untuk membuat perselisihan di dalam rumah (keluarga) sehingga tidak akur antara suami dan isteri. Atau membuat penghuni rumah susah tidur atau rasa takut juga sakit fisik dan berbagai macam ketidak harmonisan.
Masih banyak lagi gambar-gambar yang terdapat pada dinding atau bahagian muka dari rumah Batak yang sangat erat hubungannya dengan sejarah kepribadian si pemilik rumah. Ada juga gambar lembu jantan, pohon cemara, orang sedang menunggang kuda, orang sedang mengikat kerbau. Gambar Manuk-Manuk ( JABU NAMAR AMPANG NA MARJUAL )
1. Jabu Bona ialah daerah sudut kanan di sebelah belakang dari pintu masuk rumah, daerah ini biasa di temapti oleh keluarga tuan rumah.
2. Jabu Soding ialah daerah sudut kiri di belakang pintu rumah. Bahagian ini di tempati oleh anak anak yang belum akil balik (gadis)
3. Jabu Suhat, ialah daerah sudut kiri dibahagian depan dekat pintu masuk. Daerah ini di tempati oleh anak tertua yang sudah berkeluarga, karena zaman dahulu belum ada rumah yang di ongkos (kontrak) makanya anak tertua yang belum memiliki rumah menempati jabu SUHAT.
4. Jabu Tampar Piring, ialah daerah sudut kanan di bahagian depan dekat dengan pintu masuk. Daerah ini biasa disiapkan untuk para tamu, juga daerah ini sering di sebut jabu tampar piring atau jabu soding jolo-jolo. Disamping tempat keempat sudut utaman tadi masih ada daerah antara Jabu Bona dan Jabu Tampar Piring, inilah yang dinamai Jabu Tongatonga Ni Jabu Bona. Dan wilayah antara Jabu Soding dan Jabu Suhat disebut Jabu Tongatonga Ni Jabu Soding.Itulah sebabnya ruangan Ruma Batak itu boleh dibagi 4 (empat) atau 6 (enam), makanya ketika orang batak mengadakan pertemuan (rapat) atau RIA di dalam rumah sering mengatakan sampai pada saat ini; Marpungu hita di jabunta na mar Ampang na Marjual on, jabu na marsangap na martua on. urung) dan hiasan burung Patia Raja perlambang ilmu pengetahuan dan lain-lain.
BAGAS RIPE RIPE
Pada zaman dahulu, terkadang suku bangsa Batak suka mendirikan rumah secara kongsi atau rumah bersama antara abang dan adik dan rumah itu di sebut BAGAS RIPE RIPE.
Sebelum mendirikannya mereka terlebih dahulu bermusyawarah dan menentukan dan memutuskan; siapa yang menempati jabu BONA, siapa yang menempati jabu Soding jabu SUHAT dan jabu Tamparpiring. Tentunya rumah seperti ini sudah agak lebih besar, dan sifat seperti ini adalah sisa sisa sifat masyarakat kommunal. Namun biarpun adanya nampak sifat sifat kommunal pada keluarga seperti ini, mereka seisi rumah saling menghormati terutama terhadap wanita. Tidak pernah ada perkosaan ataupun perselingkuhan seperti marak maraknya di zaman yang serba materialis ini. Para nenek Suku Batak pada hatiha (ketika) itu menghormati istri kawannya yang kebetulan suaminya berada di luar rumah. Disinilah keindahan bagian dalam rumah Batak itu terutama di bidang moral. Mereka menghormati hak hak orang lain dan menghormati ukuran ukuran (Ampang/Jual) hukum hukum wilayah didalam rumah yang tidak memiliki bilik (kamar) mereka sangat mengakui bahwa rumah itu memang jabu namar Ampang Marjual.Rumah (Ruma) yang didalam bahasa asing disebut HOUSE mempunyai banyak cara untuk menyebutnya sesuai dengan fungsinya. Bilamana Ruma itu tempat penyimpanan padi maka para nenek nenek Suku Batak menyebutnya Sopo PARPEOPAN EME. Bilamana Ruma (Sopo) itu berfungsi sebagai tempat pemujaan DEWATA MULA JADI NA BOLON I (TUHAN ALLAH), maka tempat itu dinamakan Joro. Dan sampai sekarangpun masih banyak orang Batak menyebut Gereja itu dengan sebutan Bagas Joro ni DEBATA. Bagas Joro yang lama bentuknya persis seperti Ruma Batak dan sisa-sisanya masih ada pernah penulis lihat di daerah Humbang dan mereka beribadah pada hari Sabtu. Ada juga Ruma itu khusus tempat musyawarah para keluarga dan para kerabat kerabat tempat membicarakan hal hal yang penting. Tempat tersebut di namakan Tari SOPO dan biasanya tari sopo tidak mempunyai dinding contohnya dapat kita lihat di Lumban Bulbul Kecamatan Balige yang pemiliknya bernama S.B Marpaung (Op. Miduk), atau di beberapa tempat masih ada lagi sisa sisa tari sopo yang dapat kita lihat.
BALE BALE:
Berbagai macam penyebutan untuk menunjukkan Ruma (tempat tinggal manusia) di dalam bahasa Batak, kata BALE juga sering di sebut sebut, tetapi BALE kurang biasa di pakai sebagai hunian tempat berkeluarga (HOUSE dalam Bahasa Inggris). Bale artinya Balai tempat bertemu antara penjual dan pembeli. Contoh Balairung Balige yang modelnya seperti RUMA GORGA BATAK, akan tetapi fungsinya adalah sebagai tempat berjual beli kebutuhan sehari-hari.Akan tetapi biarpun BALEBALE tidak biasa seperti hunian tempat berkeluarga dan anak beranak Orang Batak sekarang sering juga menyebutkannya sebagai rumah biasa (House). Buktinya; mereka berkata “PAJONG JONG BALE BALE do anakta nuaeng di Medan ”, artinya: Anak kita sedang membangun rumah di Medan . Padahal rumah yang dibangun anaknya di Medan adalah rumah gedong. Disan do “Bale balenta”, (Disanalah rumah kita) “Nungnga adong Balebale ni lae i di Jakarta” (sudah ada rumah ipar kita itu di Jakarta .
Bagian Rumah Batak
Menurut tingkatannya Ruma Batak itu dapat dibagi menjadi 3 bagian :
1. Bagian Bawah (Tombara) yang terdiri dari batu pondasi atau ojahan tiang-tiang pendek, pasak (rancang) yang menusuk tiang, tangga (balatuk)
2. Bagian Tengah (Tonga ) yang terdiri dari dinding depan, dinding samping, dan belakang
3. Bagian Atas (Ginjang) yang terdiri dari atap (tarup) di bawah atap urur diatas urur membentang lais, ruma yang lama atapnya adalah ijuk (serat dari pohon enau).
1. Bagian Bawah (Tombara) yang terdiri dari batu pondasi atau ojahan tiang-tiang pendek, pasak (rancang) yang menusuk tiang, tangga (balatuk)
2. Bagian Tengah (
3. Bagian Atas (Ginjang) yang terdiri dari atap (tarup) di bawah atap urur diatas urur membentang lais, ruma yang lama atapnya adalah ijuk (serat dari pohon enau).
Bagian bawah berfungsi sebagai tempat ternak seperti kerbau, lembu dll. Bagian tengah adalah ruangan tempat hunian manusia. Bagian atas adalah tempat-tempat penyimpanan benda-benda keramat (ugasan homitan).
Menurut seorang peneliti dan penulis Gorga Batak (Ruma Batak) tahun 1920 berkebangsaan Belanda bernama D.W.N. De Boer, di dalam bukunya Het Toba Batak Huis, ketiga benua itu adalah :
1. Dunia atau banua toru (bawah)
2.Dunia atau banua tonga (tengah)
3. Dunia atau banua ginjang (atas)
Selanjutnya orang Batak Toba yang lama telah berkeyakinan bahwa ketiga dunia (banua) itu diciptakan oleh Maha Dewa yang disebut dengan perkataan Mula Jadi Na Bolon. Seiring dengan pembagian alam semesta (jagad raya) tadi yang terdiri dari 3 bagian, maka orang Batak Toba pun membagi/ merencanakan ruma tradisi mereka menjadi 3 bagian. Rumah tradisi mempunyai tiga tingkat sesuai dengan tingkat kosmos, demikian tulisan Achim Sibeth seorang the Batak peoples of atap (tarup). Atap rumah tradisi itu adalah ijuk (serat batang pohon enau) 20 cm rapi dan berseni. Di bawah ijuk ada±yang disusun dengan tebal lais-lais kecil yang banyak, bahannya diambil dari pohon enau juga dinamai hodong. Di atas ijuk tersebut ditaruh dengan lidi tarugit itu bukan asal diletakkan semuanya, disusun dengan seni Batak tertentu sehingga bagian atas ruma Batak itu nampak gagah, anggun, dan berseni.
Dalam bidang teknologi masyarakat Batak juga mengalami sebuah perkembangan yang cukup nyata yaitu: Peneliti berkebangsaan Jerman, Prof. Dr. Uli Kozok melakukan transliterasi atau alih aksara dari tulisan huruf Latin menjadi aksara Batak Toba dalam sistem komputerisasi. Peluncuran program transliterasi itu dilakukan di Universitas Sisingamangaraja XII. Peneliti aksara Batak dari Universitas Hawai itu mengatakan, transliterasi itu dilakukan sebagai bentuk perpaduan antara tradisi dan teknologi untuk melestarikan salah satu kekayaan warisan budaya Indonesia .“Program ini dapat dilihat lansung di internet dengan situs www.transtoba2.seige.net dalam tiga bahasa, yakni Indonesia dan dua bahasa asing yakni Inggris dan Jerman
3. Mata Pencaharian
Mata pencaharian awal masyarakat adalah bertani, menjadi nelayan, menyadap pohon karet, berkebun kelapa sawit, beternak babi, sapi, lembu. Dan masyarakat Batak yang tinggal di pesisir danau Toba, khususnya bagi para nelayan sering menggunakan Kerambah/ Jaring apung untuk menangkap dan beternak ikan. Selain itu mereka juga sering memanfaatkan airnya (yang berasal dari Danau Toba) sebagai sumber kehidupan, digunakan untuk memasak, minum, mencuci dan mandi. Namun seiring dengan perkembangannya, masyarakat Batak kini membawa seni budayanya ke tanah perantauan di luar Tapanuli termasuk seni tortor yang pada awalnya menggunakan musik rekaman (kaset) hingga akhirnya seperangkat alat gondang sabangunan dibawa hijrah yang kemudian menjadi mata pencaharian atau bisnis musik, bagi masyarakat Batak pada saat ini.
4. Organisasi Sosial
Bentuk Organisasi masyarakat Batak dapat dilihat dari sistem kemasyarakatnya, yaitu contohnya adalah
a ) marting-ting, pengumuman acara pernikahan
b) martupol, acara pengesahan pernikahan di gereja
c) pemberian marga
d) sistem pembagian harta warisan. Hukum adat Batak yang patrilineal tidak mengakui adanya pembagian harta warisan bagi anak perempuan. Semua warisan dari orangtua diberikan pada anak laki-lakinya yang esensial sebagai penyambung keturunan menurut garis bapak. Namun dewasa ini sistem hukum adat yang patrilineal yang dianut suku Batak dalam hak warisan bagi anak laki-laki sedang mendapat ujian berat. Hal ini berkaitan dengan unifikasi hukum nasional buat seluruh warga negara Indonesia, dimana anak laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dalam pembagian warisan. Oleh sebab itu hukum adat Batak tersebut kemudian disesuaikan. Anak laki-laki dan perempuan adalah sama dalam pembagian warisan.
AdatnaNiadathon
Adat na Niadathon yaitu tingkatan pelaksanaan tata upacara adat yang sudah dipengaruhi kebudayaan dan peradaban yang telah menjadi kebiasaan dan kelaziman baru. Melalui kebiasaan pelaksanaan adat pada species 2 yaitu Adat na Taradat terjadilah pergeseran-pergeseran nilai dan perubahan pelaku adat untuk menyikapi pelaksanaan upacara adat inti, melainkan memunculkan “adat baru” melawan dan menindas tata laksana upacara adat inti. Bentuk-bentuk kegiatan upacara adat yang baru pun muncul antara lain upacara adat wisuda, babtisan anak, lepas sidi, perayaan ulang tahun, peresmian perusahaan, dan lain-lain, yang sebenarnya jenis upacara adat di atas tidak dijumpai pada upacara adat Batak Toba khususnya pada adat inti.Pada upacara adat dalam species Adat na Niadathon ini sangat dipengaruhi oleh unsur keagamaan. Di sini keterbukaan pintu adaptasi terhadap budaya dan kebiasaan dari luar atau pengaruh era globalisasi telah digunakan untuk merongrong dan menjajah adat inti atau adat asli yang selalu dilaksanakan etnis Batak Toba yang lama kelamaan menjadi memudar dan kabur, dan mungkin pada suatu saat akan tidak jelas dan pada akhirnya akan lenyap.
Adat na Niadathon yaitu tingkatan pelaksanaan tata upacara adat yang sudah dipengaruhi kebudayaan dan peradaban yang telah menjadi kebiasaan dan kelaziman baru. Melalui kebiasaan pelaksanaan adat pada species 2 yaitu Adat na Taradat terjadilah pergeseran-pergeseran nilai dan perubahan pelaku adat untuk menyikapi pelaksanaan upacara adat inti, melainkan memunculkan “adat baru” melawan dan menindas tata laksana upacara adat inti. Bentuk-bentuk kegiatan upacara adat yang baru pun muncul antara lain upacara adat wisuda, babtisan anak, lepas sidi, perayaan ulang tahun, peresmian perusahaan, dan lain-lain, yang sebenarnya jenis upacara adat di atas tidak dijumpai pada upacara adat Batak Toba khususnya pada adat inti.Pada upacara adat dalam species Adat na Niadathon ini sangat dipengaruhi oleh unsur keagamaan. Di sini keterbukaan pintu adaptasi terhadap budaya dan kebiasaan dari luar atau pengaruh era globalisasi telah digunakan untuk merongrong dan menjajah adat inti atau adat asli yang selalu dilaksanakan etnis Batak Toba yang lama kelamaan menjadi memudar dan kabur, dan mungkin pada suatu saat akan tidak jelas dan pada akhirnya akan lenyap.
5. Sistem Pengetahuan
Dalam bidang pengetahuan masyarakat Batak mengenal sistem penanggalan Batak/ Kalender Batak
Nama-nama hari dalam 1 bulan di Kalender Batak (Penangggalan):
1. Artia
2. Suma
3. Anggara
4. Muda
5. Boraspati
6. Singkora
7. Samisara
8. Artia ni Aek
9. Suma ni Mangadop
10. Anggara Sampulu
11. Muda ni mangadop
12. Boraspati ni Tangkup
13. Singkora Purasa
14. Samisara Purasa
15. Tula
16. Suma ni Holom
17. Anggara ni Holom
18. Muda ni Holom
19. Boraspati ni Holom
20. Singkora Moraturun
21. Samisara Moraturun
22. Artia ni Angga
23. Suma ni Mate
24. Anggara ni Begu
25. Muda ni Mate
26. Boraspati Nagok
27. Singkora Duduk
28. Samisara Bulan Mate
29. Hurung
30. Ringkar
Nama-nama bulan dalam 1 tahun:
MAMILANGI BULAN BATAK
1. Sipahasada
2. Sipahadua
3. Sipahatolu
4. Sipahaopat
5. Sipahalima
6. Sipahaonom
7. Sipahapitu
8. Sipahaualu
9. Sipahasia
10. Sipahasampulu
11. Li
12. Hurung
6. Religi/Kepercayaan
TONDI, merupakan jiwa atau roh itu sendiri dan sekaligus kekuatan. Tondi diperoleh seseorang ketika ia masih ada dalam kandungan ibunya. Tondi sebenarnya meruapakan kekuaan yang memberi hidup kepada sang bayi (calon manusia). Tondi dapat berkurang, dapat meninggalkan badan. Kepergian tondi dari badan dalam waktu sementara, mengakibatkan orang itu sakit, bila pergi seterusnya orang tersebut menuinggal dunia. Menurut orang Batak kepergian Tondi karena ada suatu kekuatan (sombom) yang menawan. Agar Tondi dapat kembali, perlu diadakan mangalap Tondi.
SAHALA, merupakan jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Sahala yang dimiliki seseorang tidaklah sama, sahala seorang raja berbeda dalam jumlah dan kualitasnya dengan orang biasa. Sahala dapat berkurang dan menentukan perikehidupan seseorang. Sahala merupakan kekuatan yang menunjukan wujud dan jalan orang itu dalam hidup selanjutnya. Sahala seseorang berkurang, menjadikan ia kurang disegani, kedatuannya menjadi menipis.
BEGU, Beberapa begu yang ditakuti oleh orang batak, yaitu:Sombaon, yaitu begu yang bertempat tinggal di pegunungan atau di hutan rimba yang gelap dan mengerikan.
Solobean, yaitu begu yang dianggap penguasa pada tempat tempat tertentu
Silan, yaitu begu dari nenek moyang pendiri huta/kampung dari suatu marga
Solobean, yaitu begu yang dianggap penguasa pada tempat tempat tertentu
Silan, yaitu begu dari nenek moyang pendiri huta/kampung dari suatu marga
Begu Ganjang, adalah tondi orang yang telah meninggal, yang tingkah lakunya sama dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam. Beberapa begu yang ditakuti oleh orang Batak, yaitu:
· Begu Ganjang, yaitu begu yang sangat ditakuti, karena dapat membinasakan orang lain menurut perintah pemeliharanya.
· Silan, yaitu begu dari nenek moyang pendiri huta/kampung dari suatu marga.
· Solobean, yaitu begu yang dianggap penguasa pada tempat tempat tertentu.
· Sombaon, yaitu begu yang bertempat tinggal di pegunungan atau di hutan rimba yang gelap dan mengerikan.
Namun pada saat ini masyarakat Batak sudah mengalami perkembangan dalam sistem kepercayaannya, pada saat ini kebanyakan dari mereka sudah melepaskan tiga konsep kepercayaan tersebut, oleh karena semenjak kedatangan “NOMENSEN”, sebagai missionaries (Kristen) ke tanah Batak. Dengan adanya penginjilan yang telah dilakukan oleh missionaries Kristen, yaitu “NOMENSEN”, telah memperbaiki struktur yang ada, menjadikan perubahan paradigma yang lama dari orang batak akan KeTuhanan ilmu pengetahuan, pertanian,kesehatan dan seiring dengan waktu pola masyarakat mulai berubah dan berkembang akan penting pegetahuan yang lebih modern dan luas. Oleh sebab itu, kebanyakan dari masyarakat Batak kini menganut agama Kristen.
7. Kesenian
Tari tor-tor dan gondang batak yang merupakan kesenian asli dari masyarakat Batak. Gondang Batak (perpaduan alat musik suku Bangsa Batak taganing, ogung, seruling, serune dan hesek). Gondang Batak pada awalnya diselenggarakan pada acara-acara adat seperti, , perkawinan, pesta peresmian rumah parsattian, pesta tugu, pesta membentuk huta/perkampungan juga pesta adat kematian orangtua, ajang hiburan dan perkenalan (mencari jodoh). Pada saat ini telah mengalami perkembangan Budaya, yang mengakibatkan perubahan dalam kesenian asli Batak, alat musik yang digunakan dalam mengiringi gondang Batak kini mengalami pembaharuan, yaitu dengan adanya penggabungan alat musik tradisional Batak yaitu gondang Batak dengan alat musik modern yaitu dengan drum dan keyboard. Selain itu lagu yang dimainkan, bukan lagi lagu tradisional Batak melainkan lagu-rythim modern dan tarian yang dipertunjukkan adalah tarian "modern" bukan lagi tortor Batak. Karena mengalami perkembangan Budaya, maka gondang Batak kini telah merambah lingkungan café dan resto, seperti acara gondang Batak yang diselenggarakan di Restoran The Nine Club di Jalan Wijaya I No 25, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, untuk menemani para tamu yang datang sambil bersantap malam. Selain itu kesenian Batak, seperti Tarian Tor-Tor Sawan Sigale-Gale pun mengalami perkembangan, tidak hanya dipentaskan saat acara adat saja, namun sudah mulai diperkenalkan kepada masyarakat Internasional, yaitu semenjak diadakannya Peringatan 50 Tahun Perjanjian Kebudayaan Indonesia-Ceko dalam rangka upaya Pemerintah Ceko untuk menjalin hubungan baik dengan Indonesia. Geliat Opera Batak
Opera Batak
Opera berjudul “Si Purba Goring-Goring”, dramaturgi Thomson HS yang diproduksi Pusat Latihan Opera Batak (Plot), Siantar, itu terbagi dalam tiga babak. Setiap babak diselingi dengan musik, lagu, dan undian berhadiah.Mungkin ada yang beranggapan bahwa undian berhadiah yang membuat penonton bertahan. Namun, hal itu bisa ditambah jika melihat banyak penonton yang terbahak-bahak karena pasti merasa terhibur dengan adegan di atas panggung.Ceritanya tentang, “Si Purba Goring-goring” mengajak penonton berefleksi soal kesetiaan. Purba adalah anak yatim piatu yang diasuh pamannya.Ia hidup bersama Si Bintang, putri paman yang kemudian hari diketahui sebagai marpariban-nya. Purba pun menjalin hubungan cinta dengan Bintang. Namun, Purba harus merantau ke Barus untuk bekerja.Purba berupaya melupakan pariban-nya setelah dijodohkan dengan putri pengusaha di Barus. Ia mulai lupa pada pariban-nya dan anaknya hasil hubungan dengan Si Bintang.
Teater rakyat
Opera Batak adalah salah satu teater rakyat yang berkembang di Sumatera Utara. Layaknya jenis kesenian tradisional lain di Indonesia, seperti ketoprak tobong di Jawa. Opera ini awalnya muncul dari Tilhang Parhasapi, yakni pengamen keliling di desa-desa Batak. Ceritanya diambil dari cerita tutur yang berkembang di dalam cerita Batak yang ditulis dan diskenariokan kembali.Pertunjukan opera Batak dilakukan sebagai salah saturangkaian peringatan 100 tahun gugurnya pahlawan nasional Sisingamangaraja XII.
Legenda Danau Toba
Di rangkum dari Hasil cerita orang tertua setempat.
Pada jaman dahulu, hiduplah seorang pemuda tani yatim piatu di bagian utara pulau Sumatra . Daerah tersebut sangatlah kering. Pemuda itu hidup dari bertani dan mendurung ikan, hingga pada suatu hari ia mendurung,sudah setengah hari ia melakukan pekerjaan itu namun tak satu pun ikan di dapatnya.
Maka dia pun bergegas pulang karena hari pun mulai larut malam, namun ketika ia hendak pulang ia melihat seekor Ikan yang besar dan indah , warnanya kuning emas. Ia pun menangkap ikan itu dan dengan segera ia membawa pulang ikan tersebut, sesampainya di rumah karena sangat lapar maka ia hendak memasak Ikan itu tetapi karena indahnya ikan itu.
Dia pun mengurungkan niatnya untuk memasak ikan itu, ia lebih memilih untuk memeliharanya, lalu ia menaruhnya di sebuah wadah yang besar dan memberi makannya, keesokan harinya seperti biasanya ia pergi bertani ke ladangnya, dan hingga tengah hari Ia pun pulang kerumah, dengan tujuan hendak makan siang, tetapi alangkah terkejutnya dirinya, ketika melihat rumahnya, didalam rumah nya telah tersedia masakan yang siap untuk di makan, ia terheran heran, ia pun teringat pada ikannya karena takut di curi orang, dengan bergegas ia lari ke belakang, melihat ikan yang di pancingnya semalam. Ternyata ikan tersebut masih berada di tempatnya, lama ia berpikir siapa yang melakukan semua itu, tetapi karena perutnya sudah lapar , akhirnya ia pun menyantap dengan lahapnya masakan tersebut.
Dan kejadian ini pun terus berulang ulang, setiap ia pulang makan, masakan tersebut telah terhidang di rumahnya. Hingga pemuda tersebut mempunyai siasat untuk mengintip siapa yang melakukan semua itu, keesokan harinya dia pun mulai menjalankan siasatnya, Ia pun mulai bersembunyi diantara pepohonan dekat rumahnya. Lama ia menunggu, namun asap di dapur rumahnya belum juga terlihat, dan ia pun berniat untuk pulang karena telah bosan lama menunggu, namun begitu Ia akan keluar dari persembunyiannya, Ia mulai melihat asap di dapur rumahnya, dengan perlahan lahan ia berjalan menuju kebelakang rumah nya untuk melihat siapa yang melakukan semua itu.
Alangkah terkejutnya dirinya ketika ia melihat siapa yang melakukan semua itu, Dia melihat seorang Wanita yang sangat cantik dan ayu berambut panjang , dengan perlahan lahan Ia memasuki rumahnya, dan menangkap wanita tersebut. Lalu Ia berkata,
“hai .. wanita, siap kah engkau, dan dari mana asalmu?”
Wanita itu tertunduk diam, dan mulai meneteskan air mata, lalu pemuda itu pun melihat ikannya tak lagi berada di dalam wadah. Ia pun bertanya pada wanita itu,
“hai wanita kemanakah ikan yang di dalam wadah ini?”
Wanita itu pun semakin menangis tersedu sedu, namun pemuda tsb terus memaksa dan akhirnya wanita itu pun berkata
“Aku adalah ikan yang kau tangkap kemarin” .
Pemuda itu pun terkejut, namun karena pemuda itu merasa telah menyakiti hati wanita itu , maka pemuda tsb berkata,
“Hai wanita maukah engkau menjadi Istri ku..??”,
Wanita tsb terkejut , dia hanya diam & tertunduk ,lalu pemuda tsb berkata
“Mengapakah engkau diam ..!!” .
Lalu wanita tsb pun berkata , “ aku mau menjadi istri mu .. tetapi dengan satu syarat, apakah syarat itu balas pemuda itu dengan cepat bertanya, wanita itu berkata,
“Kelak jika anak kita lahir dan tumbuh, janganlah pernah engkau katakan bahwa dirinya adalah anakni Dekke(anaknya ikan)”.
Pemuda itu pun menyetujui persyaratan tsb dan bersumpah tidak akan mengatakannya, Dan menikahlah mereka.
Hingga mereka mempunyai anak yang berusia 6 tahunan , anak itu sangatlah bandal (jugul) dan tak pernah mendengar jika di nasehati, Lalu suatu hari sang ibu menyuruh anaknya untuk mengantar nasi ke ladang ketempat ayahnya, anak itu pun pergi mengantar nasi kepada ayahnya, namun di tengah perjalanan ia terasa lapar, Ia pun membuka makanan yang di bungkus untuk ayahnya, dan memakan makanan itu. Setelah selesai memakannya, kemudian ia pun membungkusnya kembali dan melanjutkan perjalanannya ketempat sang ayah, sesampainya di tempat sang ayah Ia memberikan bungkusan tersebut kepada sangayah, dengan sangat senang ayahnya menerimanya, lalu ayahnya pun duduk dan segera membuka bungkusan nasi yang di titipkan istrinya kepada anaknya, alangkah terkejutnya ayahnya melihat isi bungkusan tersebut. Yang ada hanya tinggal tulang ikan saja,sang ayah pun bertanya kepada anaknya
“hai anakku., mengapa isi bungkusan ini hanya tulang ikan belaka”, anaknya nya pun menjawab, “ di perjalanan tadi perutku terasa lapar jadi aku memakannya”, sang ayah pun emosi, dengan kuat ia menampar pipi anaknya sambil berkata
“Botul maho anakni dekke (betul lah engkau anaknya ikan),”
Sang anak pun menangis dan berlari pulang kerumah.,sesampainya dirumah anaknya pun menanyakan apa yang di katakan ayahnya
“mak .. olo do na di dokkon amangi, botul do au anakni dekke (mak .benarnya yang dikatakan ayah itu , benarnya aku ini anaknya ikan)” mendengar perkataan anaknya ibunya pun terkejut, sambil meneteskan air mata dan berkata di dalam hati.
“Suami ku telah melanggar sumpahnya,dan sekarang aku harus kembali ke alamku,”
Maka , langit pun mulai gelap , petir pun menyambar nyambar, Hujan badai pun mulai turun dengan derasnya, sang anak dan ibu raib, dari bekas telapak kaki mereka muncul mata air yang mengeluarkan air sederas derasnya, hingga daerah tersebut terbentuk sebuah Danau, yang Diberi nama Danau TUBA yang berarti danau tak tau belas kasih ,tetapi karena orang batak susah mengatakan TUBA, maka danau tersebut terbiasa disebut dengan DANAU TOBA.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar